Aki dan Eni
Pagi ini aku malas sekali beranjak dari tempat tidur. Rasanya ingin mengemukakan berjuta alasan agar aku tetap meringkuk terlelap dalam selimut tebal hangat yang melindungiku dari hawa dingin pagi ini. Gerimis. Tapi bukan itu penyebabnya. Aku ingin tidur dan melanjutkan mimpiku.
Aku bermimpi bertemu Aki dan Eni. Aki dan Eni, bukan Eyang Kakung dan Eyang Putri, atau Mbah Kung dan Mbah Uti. Aku mimpi bertemu mereka, bercengkrama, memeluk, dan mencium mereka penuh perasaan. Rasanya seperti sudah lama sekali tidak bertemu.
Di mimpi itu, kami makan siang bersama, aku belajar resep andalan Eni. Kemudian aku menyiapkan seluruh hidangan lengkap dengan peralatan di meja makan. Aku menuntun Aki dan Eni ke tempat duduk satu per satu, melayani mereka dengan kasih sayang, kemudian kami menikmati uji coba resep andalan Eni. Nikmat ! Aku yakin ini lebih dari sekedar lezatnya resep rahasia Eni, tapi ada kerinduan yang terobati di dalam hati.
Berbagai cerita kemudian mengalir dari Eni, lengkap dengan emosi yang terpancar dari mata tuanya. Yang telah menyaksikan ribuan peristiwa dan mengolah hatinya menjadi setegar dan sesabar itu. Kemudian giliran Aki yang bercerita dengan logat khas Betawi. Lucu, menghibur sekaligus menginspirasi.
Aku rindu sekali momen seperti itu.
Aku; yang tidak pernah tahu rasanya memiliki seorang kakek; yang tidak pernah memanggil lelaki senja dengan sebutan Kakek, Mbah Kung, Eyang, atau apapun itu; rasanya bahagia sekali dianugerahi mimpi itu.
Aku; yang selalu berusaha mengumpulkan kenangan-kenangan ketika masih sempat melayani Mbah Uti dengan kemanjaan khasnya; atau bercanda dengan kelucuannya; bahkan menyimak ceritanya yang itu-itu saja; sungguh sangat bahagia merasakan kembali kehangatan itu meski dalam mimpi. Aku rindu sekali.
Aku yang menjadi satu-satunya cucu yang tidak hadir di pemakaman Mbah Uti 10 tahun lalu.
Aku sangat bersyukur dianugerahi mimpi seperti itu.
Semoga rasa syukurku ini bisa mengantarkan kepada karunia yang lebih besar: berada di situasi sehangat itu secara nyata.
Aku rindu sekali melayani, aku rindu dengan pelukan hangat orang tua, mendengar ceritanya, dan melayani mereka.
Kepada Aki dan Eni, semoga Allah menyampaikan usia kita untuk bisa bercengkrama bersama ya. Terima kasih telah hadir dalam mimpiku, semoga kita bisa saling hadir dalam kehidupan saat ini.
Salam hangat penuh cinta,
Yosi Ayu Aulia


